INSOMNIA, AKIBATNYA PADA TUBUH DAN PIKIRAN

Pendahuluan
Hidup adalah kompetisi. Bagaimanapun, saat kita tidur, kita tidak dapat meningkatkan taraf hidup ataupun melindungi diri dan keluarga kita. Dari sudut pandang ini, tidur merupakan sesuatu yang kurang bermanfaat. Jadi tentu ada suatu alasan penting untuk kita sehingga harus membayar harga yang tinggi tersebut. Seperti yang disampaikan seorang peneliti, jika tidur tidak memberikan suatu fungsi yang sangat vital, tidur merupakan kesalahan terbesar yang pernah dibuat dalam proses evolusi (Edmund & Mark, 2007).
Walaupun beberapa hipotesis telah diajukan untuk menjelaskan fungsi tidur, belum ada jawaban yang jelas untuk menjawab “Mengapa kita tidur?” Teori adaptif menyatakan bahwa tidur berperan sebagai mekanisme perlindungan untuk menjaga orgnisme dari bahaya selama periode inaktif. Pendukung teori rekuperatif mengajukan postulat bahwa tidur menyediakan peran “pemeliharaan” melalui integritas dari jaringan organik dan fungsi psikis yang dipulihkan. Teori lain menyatakan peran tidur dalam proses seperti penyimpanan energy, pengaturan temperatur tubuh, dan fungsi imun. Tidak ada teori tunggal dapat digunakan untuk menjelaskan perbedaan dan kompleksitas dari proses yang terjadi selama tidur. Bukti dari pembetasan tidur menunjukkan bahwa tidur NREM (Non Rapid Eye Movement), khususnya tidur tahap 3-4, terlibat dalam pemulihan energi fisik, sedangkan tidur REM (Rapid Eye Movement), selain diduga berperan dalam pemulihan konflik emosional, juga berfungsi penting dalam konsolidasi memori baru yang diterima. Apapun peran pastinya, penting sama pentingnya dengan makanan dan air. Terbukti bahwa hewan yang dibuat tidak tidur dalam jangka waktu yang panjang akan mati, menunjukkan bahwa tidur mempunyai fungsi vital pada manusia dan hewan (Morin & Espie,2003).
Insomnia dapat menyebabkan distres emosional yang bermakna, kelelahan, mengantuk, dan hambatan fungsi harian. Hambatan fungsi sosial dan pekerjaan berpengaruh langsung pada kualitas hidup. Orang dengan insomnia mempunyai tingkat yang lebih tinggi untuk masalah kesehatan mental, kondisi nyeri tulang dan otot, dan penggunaan fasilitas kesehatan. Bukti hubungan antara insomnia dan depresi berat sangat kuat, sedangkan bukti hubungan antara insomnia dengan kecemasan lebih sedikit. Insomnia berkaitan dengan insiden kecelakaan kerja, kecelakaan kendaraan, dan kematian yang bermakna (Budur, Rodriguez, Foldvary-Shcaefer, 2007).

Fungsi Tidur
Tidur berperan dalam proses pertumbuhan. Beberapa pendapat menyatakan bahwa tidur membantu pembentukan koneksi pada otak selama periode kritis dari perkembangan. Sebagai contoh, semua kontraksi otot pada bayi yang terjadi saat tidur dapat membantu bayi untuk dapat mengontrol ototnya. Hal ini dapat menjelaskan mengapa kita tidur lebih banyak saat muda dibandingkan saat dewasa. Tidur dapat merupakan bentuk dari pemeliharaan energi selama 24 jam dalam sehari, seperti pada hibernasi yang memelihara energi selama musim dingin. Tidur berperan dalam proses pemulihan. Tingkat metabolisme yang tinggi meningkatkan produksi stres oksidatif dari mitokondria. Kadar yang tinggi dari oksidatif stres berkaitan dengan penuaan, arthritis, dan demensia pada tikus. Tidur adalah saat dimana otak membersihkan dan memperbaiki kerusakan yang terakumulasi selama sehari. Tidur berperan dalam konsolidasi memori. Hipotesis yang mendasarinya adalah informasi yang didapatkan selama sehari diulang dan diperkuat selama tidur. Banyak desain penelitian berbeda telah membuktikan bahwa prosedur atau kemampuan untuk mengenali pola meningkat setelah tidur atau bahkan hanya setelah tidur pendek dalam sehari. Lebih lanjut telah dibuktikan bahwa ada hubungan antara sel hipokampus dan neuron kortikal selama beraktivitas dibandingkan saat tidur. Ini menunjukkan bahwa hipokampus mengulang kejadian dalam hari itu dan kemungkinan mengatur konsolidasi memori menjadi simpanan memori jangka panjang kortikal (Edmund & Mark, 2007).

Insomnia
Insomnia dapat digolongkan dengan 2 cara: dengan durasi dari insomnia atau dengan etiologinya. Berdasarkan durasinya, ada bentuk insomnia. Insomnia akut (juga dikenal sebagai insomnia transien) biasanya merupakan akibat dari kejadian dari lingkungan atau sosial yang spesifik seperti kematian anggota keluarga, perubahan jadwal kerja, perjalanan, atau suara yang mengganggu. Tipe kedua adalah insomnia kronis. Insomnia kronis tidak mempunyai kriteria diagnostik tertentu tetapi umumnya lebih dari 1 bulan, dengan kisaran antara 1 sampai 6 bulan, terjadi 3 kali atau lebih dalam seminggu, dan mengkibatkan disfungsi harian dalam beberapa derajat tertentu. Insomnia kronis berkaitan dengan gangguan tidur intrinsik, insomnia primer, atau kondisi medis kronis lainnya yang mempengaruhi pola tidur pasien. Penggolongan insomnia berdasarkan etiologi meliputi insomnia primer dan sekunder. Insomnia primer tidak disebabkan oleh kondisi fisik atau mental yang diketahui. Ditandai oleh gejala yang konsisten, perjalanan klinis yang jelas, dan respon terhadap terapi. Insomnia sekunder (juga merujuk kepada insomnia komorbid) hasil dari penyakit medis dan psikiatri lain, pengobatan, atau gangguan tidur lainnya (Reeder, Franklin, Bramley, 2007).
Insomnia menjadi spektrum keluhan yang mencerminkan ketidakpuasan dengan kualitas, lama, atau keberlangsungan tidur. Keluhan yang muncul dapat meliputi masalah dengan awal jatuh tertidur pada jam tidur, terbangun pada tengah malam dan sulit untuk tertidur kembali, atau bangun terlalu dini pada pagi hari dengan tidak dapat untuk tidur kembali. Tidur dapat juga digambarkan sebagai ringan, sedikit, atau tidak menyegarkan. Kesulitan ini dapat muncul baik tunggal atau kombinasi. Kenyataannya, gabungan antara onset tidur dan insomnia yang menetap kemungkinan lebih umum dibandingkan dengan jenis kesulitan tunggal. Selain itu, dapat terjadi variasi yang nyata dalam pola tidur dari satu malam ke malam yang lain dan jenis kesulitan tidur dapat juga berubah sepanjang perjalanan gangguan (Morin & Espie, 2003).
Keluhan subjektif insomnia tidak selalu seluruhnya sesuai dengan pengukuran tidur yang objektif (polisomnografi). Ketidaksesuaian ini menggambarkan perubahan persepsi tidur merupakan gambaran penting dari insomnia. Didukung atau tidak oleh penemuan objektif polisomnografi, insomnia biasanya berkaitan dengan laporan kelelahan pada siang hari, campuran gambaran kecemasan dan depresi atau gangguan mood lain (seperti iritabilitas), dan hambatan dalam fungsi harian. Insomnia sering ditekankan tentang hambatan pada harian ini atau tentang akibatan gangguan tidur pada kesehatan, dibandingkan insomnia itu sendiri, yang menyebabkan pasien datang mencari pengobatan. Di sisi lain, penting untuk dicatat bahwa beberapa orang dengan gejala insomnia (seperti, penundaan onset tidur atau terbangun tengah malam) tidak menekankan pada gejala ini atau merasa hal itu mengganggu fungsi mereka. Individu ini mungkin tidak pernah datang ke klinik. Juga, insomnia tidak selalu muncul sebagai keluhan spesifik, atau tunggal. Insomnia sering bersamaan dengan masalah kronis lain yang mendasari atau terpisah dengan masalah lainnya (Morin & Espie, 2003).
Tabel 1. Kriteria Insomnia
• Berat gangguan tidur: Latensi tidur atau waktu bangun setelah onset tidur lebih dari 30 menit; atau, bangun terakhir lebih dari 30 menit sebelum waktu ingin dan sebelum waktu tidur total mencapai 6,5 jam; efisiensi tidur di bawah 85 %. Dapat tanpa disesuaikan dengan pemeriksaan PSG.
• Frekuensi: Kesulitan tidur terjadi tiga malam atau lebih dalam satu minggu.
• Durasi: Insomnia terjadi lebih dari 1 bulan (DSM-IV) atau 6 bulan (ICSD).
• Ketidakmampuan harian/tanda distres: Nilai 2 atau 3 berdasarkan Insomnia Severity Indexs scale.
(Morin & Espie).

Akibat Insomnia
Akibat kronisitasnya, insomnia berkaitan dengan hambatan substansial pada kualitas hidup individu. Pada beberapa penelitian insomnia, dilaporkan penurunan kualitas hidup secara nyata pada seluruh dimensi dari 36 poin Short Form Health Survey of the Medical Outcomes Study (SF-36), yang menilai 8 domain: (1) fungsi fisik; (2) keterbatasan peran akibat masalah kesehatan fisik (peran fisik); (3) nyeri tubuh; (4) persepsi kesehatan umum; (5) vitalitas; (6) fungsi sosial; (7) keterbatasan peran akibata masalah kesehatan emosional (peran emosional); dan (8) kesehatan mental. Suatu penelitian membandingkan hasil SF-36 antara kelompok pasien insomnia sedang dan berat dengan pasien depresi atau gagal jantung kongestif. Pasien insomnia berat lebih banyak kehilangan fungsi pada poin nyeri yang dilaporkan, efek emosional, dan efek kesehatan mental dibandingkan pasien gagal jantung kongestif. Di samping itu, pasien insomnia juga dilaporkan mempunyai masalah fisik yang lebih besar dibandingkan depresi (Roth, 2007).
Insomnia dapat menyebabkan akibat pada fisik maupun psikis karena terjadinya disregulasi Corticotropin-releasing factors (CRF), hiperaktivitas aksis hipotalamus pituitary adrenal (HPA) dan hipersekresi kortisol. Kadar kortisol dan hormon adrenokortikotropik (ACTH) plasma pada pasien insomnia lebih tinggi dan perbedaan yang paling bermakna terjadi pada sore hari dan beberapa jam pertama malam hari (Roth, 2007).

Akibat Insomnia Pada Pikiran
Meskipun ada keterbatasan bukti antara hilangnya tidur yang bermakna dan gangguan kognitif pada pasien insomnia, gangguan tidur kronis pada insomnia dapat menyebabkan akibat yang merusak pada kesehatan pikiran dan kualitas hidup. Terbukti, insomnia hampir selalu dikaitkan dengan gangguan kelelahan dan mood seperti iritabilitas dan disforia. Perjalanan tidur yang tidak diperhitungkan dan dikendalikan dapat membawa seseorang mengalami iritabilitas, ketegangan, kehilangan semangat atau bahkan mood depresi. Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa insomnia menetap yang tidak diobati dapat menjadi risiko berkembangnya depresi berat. Kehilangan tidur pada insomnia dapat menyebabkan distres, akibat pada fungsi pekerjaan dan sosial, dan penurunan kualitas hidup. Selanjutnya, gangguan emosional ini dapat menyebabkan pasien insomnia merasa lelah, penurunan performa, dan perubahan mood (Morin & Espie, 2003).
Kejadian yang paling sering adalah gangguan mood dan kecemasan. National Institute of Mental Health meneliti di Amerika menunjukkan bahwa risiko berkembangnya penyakit depresi berat atau kecemasan baru, meningkata secara bermakna pada insomnia yang tidak membaik dalam satu tahun (Mahendran, Subramaniam, Chan, 2007).

Akibat Insomnia pada Kesehatan Fisik
Pasien Insomnia seringa datang untuk mendapatkan pengobatan dengan keluhan utama tentang akibat tidak tidur pada kesehatan fisik mereka. Keluhan somatik sangat sering dilaporkan oleh seseorang dengan insomnia meliputi masalah gastrointestinal, masalah pernafasan, sakit kepala dan sakit yang tidak spesifik serta nyeri. Walaupun ada hubungan yang kuat antara tidur dan keluhan kesehatan, hubungan kausatif yang jelas belum didapatkan. Beberapa pasien dapat kuatir bahwa insomnia menetap akan menyebabkan penyakit medis yang berat seperti stroke atau bahkan kanker. Pada manusia, hanya ada sedikit bukti bahwa kehilangan tidur, bahkan untuk beberapa hari, mengakibatkan adanya disfungsi fisik yang berat atau menetap. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembatasan tidur kronik menurunkan fungsi imun, meskipun belum jelas hubungan kausal dengan insomnia klinis yang parah. Distres fisik berkaitan dengan hilangnya tidur, dibandingkan tidak tidurnya sendiri, dapat menyebabkan menurunnya fungsi imun. Durasi tidur berkaitan dengan lamanya hidup, yaitu durasi tidur pendek (4 jam atau kurang) atau panjang (10 jam atau lebih) berhubungan dengan angka kematian yang tinggi, tetapi insomnia sendiri tidak terkait dengan lamanya hidup (Morin & Espie, 2003).
Insomnia berkaitan dengan masalah medis dan pembedahan. Penemuan dari National Sleep Foundation’s Sleep pada survei di Amerika tahun 2003 menunjukkan bahwa gangguan tidur dan penyakit kronis pada dewasa tua sering merupakan komorbid (Mahendran, Subramaniam, Chan, 2007).

Terapi Insomnia
Terapi insomnia dibagi menjadi farmakologi dan nonfarmakologi. Farmakologi digolongkan menjadi nonbenzodiazepin (zolpidem), melatonin reseptor agonis (ramelteon), antihistamin, antidepresan, benzodiazepine, herbal, dan suplemen. Nonfarmakologi berupa Terapi Kognitif Perilaku, olah raga, terapi relaksasi, terapi paradoksikal intension, terapi kontrol stimulus, pengukuran kontrol temporal. Penelitian meta-analisis yang membandingkan terapi farmakologi dan nonfarmakologi mendapatkan keefektivan jangka pendek yang sama (dua sampai tiga minggu) pada pasien dengan insomnia primer. Terapi nonfarmakologi menunjukkan sedikit keunggulan dalam mengurangi latensi onset tidur, tetapi terbangun setelah onset tidur, jumlah frekuensi terbangun, total waktu tidur, dan kualitas tidur tidak berbeda secara bermakna (Ramakrishnan & Scheid, 2007).
Terapi farmakologi pada insomnia dapat menyebabkan beberapa efek samping. Beberapa golongan nonbenzodiazepin (zolpidem, zaleplon dan eszoplikon) dapat menyebabkan efek samping nyeri perut, insomnia rebound, mempengaruhi persepsi warna, rasa tidak enak di lidah, amnesia, halusinasi, dan perburukan depresi. Golongan antihistamin dapat menyebabkan efek samping antikolinergik dan perangsangan atau penekanan sistem saraf pusat. Antidepresan dapat menyebabkan efek samping antikolinergik, ngantuk pagi hari, samnolen siang hari, kecelakaan, gangguan jantung, disfungsi seksual, sindrom serotonin, sesak nafas, edema, hiper atau hipokinesia, meningkatkan nafsu makan, dan agranulositosis. Benzodiazepin dapat menyebabkan efek samping amnesia anterograd, mengantuk di siang hari dan penekanan pernafasan (Ramakrishnan & Scheid, 2007).
Terapi Kognitif Perilaku pada insomnia yaitu membantu mengubah kepercayaan dan perilaku yang salah tentang tidur (seperti harapan yang tidak realistik, salah pengertian, membesar-besarkan akibat dari tidak tidur). Tekniknya meliputi latihan pembentukan kembali (seperti menetapkan tujuan dan merencanakan respon koping), dekatastropi (ditujukan pada menghilangkan pikiran otomatis kecemasan), membingkai ulang, dan pengalihan perhatian. Olah raga dilakukan dengan intensitas sedang (tidak dilakukan pada saat menjelang tidur). Terapi relaksasi yaitu menegangkan dan merilekskan kelompok otot yang berbeda, membayangkan atau biofeedback (umpan balik visual atau auditorik) untuk mengurangi kewaspadaan somatik, meditasi dan hipnosis. Pembatasan tidur (terapi paradoksikal intension) yaitu menggunakan pendekatan paradoksikal dengan mengurangi waktu pasien di tempat tidur (menghubungkan waktu ditempat tidur dengan waktu tidur). Waktu tidur kemudian ditingkatkan atau diturunkan secara progresif tergantung perkembangan dan perubahan lama dan kualitas tidur. Keadaan tidur yang lebih minimal mengakibatkan tidur yang lebih efisien. Terapi kontrol stimulus yaitu menghindari pencahayaan (termasuk televisi), suara dan temperatur yang ekstrim. Menghindari daging, kopi, rokok, dan alkohol pada malam hari. Mengurangi asupan minuman pada sore hari. Meninggalkan tempat tidur bila tidak dapat tidur lebih dari 20 menit. Membatasi penggunaan tempat tidur hanya untuk tidur dan berhubungan intim. Pengukuran kontrol temporal yaitu waktu bangun yang konsisten, meminimalkan tidur siang hari (Ramakrishnan & Scheid, 2007).
Terapi insomnia dapat dibagi berdasarkan tipe insomnia. Insomnia transien diberikan hipnotik non benzodiazepine. Insomnia jangka pendek diberikan hipnotik non benzodiazepine ditambah pendidikan kesehatan tidur dan terapi kontrol stimulus. Insomnia kronis diberikan hipnotik non benzodiazepine, ditambah rujukan untuk pemeriksaan tidur (jika ada kemungkinan sesuatu yang lebih dari insomnia), pendidikan kesehatan tidur, pembatasan tidur, kontrol stimulus, latihan relaksasi, biofeedback, latihan membayangkan, dan terapi kognitif perilaku (Hirskowitz & Smith, 2004).

Kesimpulan
Insomnia dapat dapat diakibatkan oleh suatu kondisi medis atau pikiran yang terganggu. Insomnia dapat merupakan suatu gangguan yang berdiri sendiri (insomnia primer), yang akan mengakibatkan gangguan pada pikiran dan fisik. Insomnia tidak membaik dan berlangsung kronis mengakibatkan gangguan baik secara pikiran dan fisik yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas kehidupan pasien dan orang serta lingkungan di mana pasien berinteraksi.


Daftar Pustaka

Budur K, Rodriguez C, Foldvary-Shcaefer N. 2007. Advances in treating insomnia.Cleveland clinic journal of medicine, vol 74, no 4.

Edmund S.H, Mark S. G. 2007. Neuroscience of Clinical Psychiatry, The: The Pathophysiology of Behavior and Mental Illness, 1st Edition. Lippincott Williams & Wilkins, South Caroline.

Hirshkowitz M & Smith P. B. 2004. Sleep Disorders for Dummies. Wiley Publishing inc, Indianapolis.

Mahendran R, Subramaniam M, Chan Y. H. 2007. Psychiatric morbidity in patients referred to an insomnia clinic. Singapore Med; 48 (2) : 163.

Morin C. M, Espie C. A. 2003. Insomnia A Clinical Guide to Assessment and Treatment. Kluwer. Academic/Plenum Publishers, New York.

Ramakrishnan K & Scheid D. C. 2007. Treatment Options for Insomnia. American Family Physician. www.aafp.org/afp vol 76, no 4.

Reeder C. E, Franklin M, Bramley T. J. 2007. Current Landscape of Insomnia in Managed Care. The american journal of managed care, vol 13, no 5.

Roth T. 2007. Insomnia: Definition, Prevalence, Etiology, and Consequences. Journal of Clinical Sleep Medicine Supplement, vol 3, no. 5.


Demikian informasi dari saya mengenai INSOMNIA, AKIBATNYA PADA TUBUH DAN PIKIRAN
Semoga bermanfaat bagi anda...
Mohon maaf jika ada salah atau kekurangan
Kritik dan saran saya harapkan dari anda sekalian.

1 comments:

nadya islami said...

kutip sedikit ya kk^^

Post a Comment